PPPK PARUH WAKTU MENUNGGU KEPASTIAN, GTKN SIAP TURUN KE JALAN

JAKARTA, Mediasuratkabarumum.com — Persoalan PPPK Paruh Waktu kembali menjadi sorotan. Di tengah berbagai arah kebijakan pembangunan pemerintah, ribuan guru dan tenaga kependidikan masih menunggu jawaban atas persoalan paling mendasar: kapan kepastian status dan masa depan pengabdian mereka diberikan?

GTK Nusantara (GTKN) menyampaikan penghormatan kepada Presiden Republik Indonesia atas pidato serta arah kebijakan pembangunan yang disampaikan. Namun, GTKN juga menyatakan kekecewaan mendalam karena persoalan penyelesaian PPPK, khususnya terkait keberlanjutan PPPK Paruh Waktu menuju penuh waktu, belum mendapatkan kejelasan yang diharapkan.

Bagi GTKN, persoalan tersebut bukan sekadar persoalan administrasi maupun perubahan status kepegawaian.

Ini menyangkut masa depan guru dan tenaga kependidikan yang telah bertahun-tahun mengabdi kepada negara.

Mereka berada di ruang kelas, mendampingi peserta didik, menjalankan administrasi sekolah, serta memastikan roda pendidikan tetap berjalan. Namun, setelah bertahun-tahun mengabdi, sebagian masih harus menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan status kepegawaiannya.

GTKN menegaskan, PPPK Paruh Waktu tidak boleh menjadi status tanpa batas waktu. Pengabdian yang panjang, menurut GTKN, harus mendapatkan kepastian dan arah penyelesaian yang jelas.

20.000 ANGGOTA GTKN SIAP BERGERAK

GTKN menegaskan tetap mengedepankan dialog dan jalur konstitusional. Namun, apabila aspirasi tersebut tidak mendapatkan jawaban yang jelas dari pemerintah, sekitar 20.000 anggota GTKN menyatakan siap bergerak.

Aksi tersebut direncanakan berlangsung secara damai, tertib, dan konstitusional, termasuk menyiapkan aksi selama tiga hari di depan Istana Negara dan/atau DPR RI.

GTKN juga menyatakan kesiapan peserta aksi dengan tenda dan perbekalan selama kegiatan berlangsung.

Pesan yang dibawa GTKN dinilai sederhana:

Mereka tidak meminta keistimewaan. Mereka meminta kepastian.

PEMBANGUNAN PENDIDIKAN TAK CUKUP HANYA MEMBANGUN GEDUNG

GTKN juga mengingatkan pemerintah bahwa pembangunan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari pembangunan infrastruktur.

Gedung sekolah, laboratorium, ruang kelas, dan berbagai fasilitas pendidikan memang penting. Namun, di balik seluruh infrastruktur tersebut terdapat guru dan tenaga kependidikan yang menjadi penggerak utama pendidikan.

Bangunan pendidikan boleh berdiri kokoh, tetapi pendidikan tidak akan berdiri tegak tanpa guru dan tenaga kependidikan yang sejahtera serta memiliki kepastian status.

Karena itu, GTKN meminta pemerintah tidak hanya memperhatikan pembangunan fisik pendidikan, tetapi juga memastikan kesejahteraan dan kepastian karier para pendidik serta tenaga kependidikan.

GTKN: KAMI BUKAN MENCARI KONFLIK

GTKN menegaskan bahwa langkah tersebut bukan ditujukan untuk menciptakan konflik dengan pemerintah.

Organisasi tersebut mengaku tetap membuka ruang dialog dan berharap persoalan PPPK Paruh Waktu dapat diselesaikan melalui komunikasi yang konstruktif.

Namun, jika aspirasi yang telah disampaikan berulang kali tidak memperoleh jawaban konkret, GTKN menyatakan siap membawa suara para guru dan tenaga kependidikan tersebut langsung ke pusat pemerintahan.

“Kami datang bukan untuk mencari keributan, tetapi untuk mencari kepastian.”

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa perjuangan GTKN bukan semata-mata mengenai status administratif. Di balik persoalan PPPK Paruh Waktu terdapat masa depan ribuan guru, tenaga kependidikan, serta keluarga yang menggantungkan harapan pada kepastian pekerjaan dan pengabdian mereka.

Kini, perhatian diarahkan kepada pemerintah.

Apakah PPPK Paruh Waktu akan mendapatkan jalan menuju status penuh waktu dan kepastian masa depan, atau kembali harus menunggu tanpa batas waktu?

GTKN menyatakan masih menunggu jawaban pemerintah. Namun apabila kepastian tak kunjung diberikan, aksi di depan Istana Negara dan/atau DPR RI siap menjadi pilihan perjuangan berikutnya.

Sudah waktunya pengabdian dibayar dengan kepastian.

PPPK Paruh Waktu tidak boleh menjadi status tanpa batas waktu. ***Red 

Ketua Kwarcab Bandung Barat Ludi Awaludin Hadiri Pembukaan LT II Kwarran Ngamprah

NGAMPRAH, BANDUNG BARAT, MediaSuratKabarUmum.com — Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Bandung Barat, Ludi Awaludin, S.Ip., M.Si., menghadiri pembukaan Lomba Tingkat II (LT II) Kwarran Ngamprah Tahun 2026, yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT Gerakan Pramuka ke-65. Kamis, 13/8/2026

Kegiatan yang berlangsung di kawasan wisata alam tersebut diikuti jajaran pembina dan anggota Gerakan Pramuka Kwarran Ngamprah. LT II menjadi salah satu wadah pembinaan untuk mengasah keterampilan, kedisiplinan, kemandirian, kreativitas serta jiwa kepemimpinan peserta didik.

Kehadiran Ketua Kwarcab Bandung Barat Ludi Awaludin menjadi bentuk dukungan terhadap pelaksanaan pembinaan kepramukaan di tingkat ranting. Gerakan Pramuka dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda agar memiliki semangat pengabdian, tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, semangat kebersamaan dan kekompakan para pembina Pramuka turut mewarnai pelaksanaan kegiatan. LT II tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan nonformal yang mengedepankan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong dan sportivitas.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Peringatan HUT Pramuka ke-65 Kwarran Ngamprah Tahun 2026, dengan mengusung semangat “Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan.”

Melalui pelaksanaan LT II, diharapkan para peserta mampu mengembangkan potensi diri serta mengimplementasikan nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka dalam kehidupan sehari-hari.

Momentum HUT Pramuka ke-65 diharapkan semakin memperkuat komitmen seluruh jajaran Gerakan Pramuka di Kabupaten Bandung Barat dalam membina generasi muda yang berkarakter, tangguh, mandiri dan siap mengabdi bagi masyarakat, bangsa dan negara. ***Red 

GAJI PPPK PARUH WAKTU KBB OKTOBER–DESEMBER JADI SOROTAN, FGTK: JANGAN PANIK, TAPI WAJIB DIKAWAL!


BANDUNG BARAT, mediasuratkabarumum.com — Keresahan guru dan tenaga kependidikan (tendik) yang masuk dalam skema PPPK Paruh Waktu di Kabupaten Bandung Barat kembali mencuat. Isu yang beredar bukan hanya menyangkut keberlanjutan SK, tetapi juga kabar mengenai anggaran penghasilan untuk Oktober, November dan Desember 2026.

Di tengah isu tersebut, muncul pula informasi mengenai Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 198 Tahun 2026 yang disebut berkaitan dengan alokasi keuangan untuk Kabupaten Bandung Barat.

Dalam dokumen keuangan pemerintah pusat, muncul angka Rp8.606.411.000 untuk Kabupaten Bandung Barat. Nilainya tentu bukan angka kecil.

Namun, bagi FGTK Kabupaten Bandung Barat, kemunculan angka tersebut justru harus menjadi bagian yang dikawal dan dipastikan peruntukannya, bukan langsung disimpulkan sebagai anggaran gaji PPPK Paruh Waktu.

FGTK: JANGAN PANIK, TAPI JANGAN DIAM

Ketua FGTK Kabupaten Bandung Barat, Riki Triyadi, meminta para guru dan tendik PPPK Paruh Waktu tidak langsung panik menghadapi berbagai informasi yang beredar.

Menurutnya, FGTK masih melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan, BKPSDM, serta DPRD Kabupaten Bandung Barat, termasuk Komisi I dan Komisi II, untuk mendapatkan kepastian mengenai keberlanjutan PPPK Paruh Waktu.

“Jangan panik dulu. Kami dari FGTK Bandung Barat masih terus berkoordinasi dengan Disdik, BKPSDM, DPRD Komisi I dan Komisi II terkait perpanjangan SK PPPK Paruh Waktu,” ujar Riki.

Berdasarkan informasi yang diterima FGTK dari BKPSDM, proses keberlanjutan PPPK Paruh Waktu saat ini masih on progress.

“Intinya masih dalam skema perpanjangan PPPK Paruh Waktu dan sedang disusun secara administratif,” jelasnya.

Artinya, sampai saat ini guru dan tendik diminta tidak mengambil kesimpulan bahwa PPPK Paruh Waktu akan dihentikan hanya berdasarkan isu yang beredar.

GAJI OKTOBER–DESEMBER: INI YANG HARUS DIPASTIKAN

Di sisi lain, persoalan yang paling ditunggu para guru adalah kepastian penghasilan untuk Oktober, November dan Desember 2026.

Kabar mengenai relokasi anggaran membuat sebagian guru bertanya-tanya: bagaimana nasib pembayaran penghasilan PPPK Paruh Waktu pada tiga bulan terakhir tahun 2026?

Pertanyaan tersebut dinilai wajar. Sebab, menyangkut hak penghasilan ribuan guru dan tendik yang selama ini menjalankan tugas pelayanan pendidikan.

Karena itu, FGTK Bandung Barat mendorong agar persoalan anggaran tersebut dibuka secara terang dan dikomunikasikan secara jelas kepada para guru.

MUNCUL ANGKA RP8,606 MILIAR, FGTK DORONG DIKAWAL

Selain isu gaji, perhatian juga tertuju pada informasi mengenai KMK Nomor 198 Tahun 2026.

Angka Rp8.606.411.000 disebut muncul dalam dokumen keuangan pemerintah pusat untuk Kabupaten Bandung Barat.

Nilai tersebut cukup besar dan tentu menarik perhatian publik, khususnya para guru dan tendik yang sedang menunggu kepastian mengenai penghasilan mereka.

Namun, kemunculan angka Rp8,606 miliar tersebut tidak boleh serta-merta disebut sebagai anggaran gaji PPPK Paruh Waktu tanpa adanya penjelasan resmi mengenai nomenklatur dan peruntukannya.

Justru di sinilah pentingnya pengawalan.

Angkanya harus dibaca, peruntukannya harus jelas, mekanismenya harus terang, dan penggunaannya harus dapat dipertanggungjawabkan.

FGTK Bandung Barat mendorong pemerintah daerah bersama DPRD memberikan penjelasan secara terbuka agar tidak terjadi ruang spekulasi yang akhirnya membuat guru semakin resah.

DPRD SEBELUMNYA SEBUT GAJI 2026 AMAN

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bandung Barat, Hj. Enur Julaeha, sebelumnya juga memberikan pernyataan terkait keresahan PPPK Paruh Waktu.

Sebagaimana diberitakan RMOLJabar, DPRD menyatakan bahwa gaji PPPK Paruh Waktu untuk tahun 2026 masih aman dan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat masih sanggup membayarnya.

Pernyataan tersebut tentu menjadi kabar yang menenangkan.

Namun, bagi FGTK, pernyataan tersebut tetap perlu diikuti dengan kepastian administratif dan penganggaran, khususnya untuk pembayaran Oktober, November dan Desember 2026.

FGTK: GURU BUTUH KEPASTIAN, BUKAN KABAR YANG BIKIN RESAH

Riki Triyadi menegaskan bahwa FGTK Bandung Barat akan terus mengawal persoalan ini.

Menurutnya, guru tidak membutuhkan kepanikan, tetapi membutuhkan kepastian yang bersumber dari data dan keputusan resmi.

“Kami terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Jangan panik, tetapi juga jangan diam. Informasi yang berkaitan dengan hak guru harus kita kawal bersama agar semuanya jelas,” tegas Riki.

FGTK Bandung Barat juga meminta pemerintah daerah memberikan penjelasan secara transparan mengenai status perpanjangan SK PPPK Paruh Waktu, sumber dan mekanisme pembayaran penghasilan Oktober–Desember 2026, serta kejelasan peruntukan anggaran yang berkaitan dengan KMK Nomor 198 Tahun 2026.

Sebab, angka miliaran rupiah bukan sekadar angka di atas dokumen. Di baliknya ada hak, ada kepentingan pelayanan publik, dan ada ribuan guru yang menunggu kepastian. ***Red

Jangan panik. Tapi wajib dikawal.


DEDI BAMBANG SUJANA RESMI PIMPIN KWARRAN CIPATAT, SAATNYA BUKTIKAN KERJA NYATA

Cipatat, MediaSuratKabarUmum.com — Dedi Bambang Sujana resmi terpilih sebagai Ketua Kwartir Ranting (Kwarran) Gerakan Pramuka Cipatat melalui Musyawarah Ranting (Musran) Tahun 2026 yang digelar di Aula Kantor Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (8/8/2026).

Terpilihnya Dedi Bambang Sujana membawa mandat baru sekaligus tanggung jawab besar untuk melanjutkan roda organisasi Gerakan Pramuka di Kecamatan Cipatat. Kepemimpinan baru diharapkan mampu memperkuat pembinaan, membangun soliditas organisasi, serta menghadirkan program yang benar-benar memberikan manfaat bagi anggota dan masyarakat.

Pesan tegas datang dari Acep Agus Z, S.Pd.I., mantan Ketua Kwarran Pramuka Cipatat. Ia menyampaikan ucapan selamat kepada Dedi Bambang Sujana sekaligus berharap ketua terpilih mampu menjalankan amanah organisasi dengan baik.

“Alhamdulillah, Musran Cipatat berjalan lancar. Selamat buat Kak Dedi Bambang Sujana yang telah terpilih sebagai Ketua Kwarran yang baru. Semoga amanah dan mampu membawa Pramuka Cipatat semakin maju, solid, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Acep Agus Z.

Menurut Acep, setelah kepemimpinan baru ditetapkan, pekerjaan organisasi justru baru dimulai. Musran tidak boleh berhenti sebagai agenda pergantian kepemimpinan atau seremoni organisasi semata.

Ia menegaskan, ketua terpilih harus mampu menerjemahkan mandat Musran ke dalam kerja nyata, program yang jelas, serta pembinaan yang berkelanjutan.

“Setelah Musran selesai, tidak boleh berhenti pada seremoni. Sekarang waktunya bekerja, menyusun program, memperkuat pembinaan dan menunjukkan hasil nyata,” tegasnya.

Acep juga berharap seluruh unsur Gerakan Pramuka di Kecamatan Cipatat, mulai dari pembina, pelatih, gugus depan hingga anggota, dapat bersatu dan memberikan dukungan terhadap kepemimpinan Dedi Bambang Sujana.

Menurutnya, soliditas menjadi modal penting agar Kwarran Cipatat mampu bergerak lebih aktif dan terarah dalam menjalankan fungsi pembinaan generasi muda.

Musran Gerakan Pramuka Kwarran Cipatat Tahun 2026 sendiri berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Cipatat pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan arah organisasi dan keberlanjutan kepemimpinan Gerakan Pramuka di tingkat ranting.

Dengan ditetapkannya Dedi Bambang Sujana sebagai ketua baru, Kwarran Cipatat memasuki babak kepemimpinan berikutnya. Tantangan ke depan adalah bagaimana mandat tersebut diwujudkan menjadi organisasi yang semakin solid, aktif, disiplin, dan berkarakter.

Mandat sudah diberikan. Kepemimpinan sudah ditetapkan. Kini saatnya Dedi Bambang Sujana bersama seluruh jajaran Kwarran Cipatat membuktikan kerja nyata. ***Red

Wacana Penggunaan DAU untuk Gaji PPPK Tuai Sorotan, GKTN Minta Pemerintah Pusat Tanggung Jawab Penuh


JAKARTA, Mediasuratkabarumum.com – Wacana pemerintah yang akan memanfaatkan Dana Alokasi Umum (DAU) sebagai sumber pembiayaan gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan guru paruh waktu menuai kritik dari kalangan pemerhati pendidikan dan tenaga kependidikan. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi membebani keuangan daerah serta mengurangi anggaran pembangunan sektor pendidikan.

Dana Alokasi Umum selama ini menjadi salah satu instrumen penting bagi pemerintah daerah untuk membiayai berbagai kebutuhan pelayanan publik, termasuk pembangunan dan rehabilitasi sekolah, pengadaan sarana pembelajaran, serta peningkatan kualitas pendidikan. Karena itu, pengalihan fungsi DAU untuk membayar gaji ASN dikhawatirkan akan berdampak pada menurunnya kualitas layanan pendidikan di daerah.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal GKTN, Ratna, menyatakan pihaknya mendukung penuh peningkatan kesejahteraan guru PPPK maupun tenaga honorer. Namun, menurutnya, pembiayaan gaji PPPK seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), bukan dibebankan kepada pemerintah daerah melalui DAU.

"Saya sangat menyayangkan. Menambah dana DAU untuk membayar gaji PPPK dan guru paruh waktu itu sama saja memindahkan beban negara ke pundak daerah. DAU adalah uang untuk membangun sekolah, membeli buku, dan memperbaiki ruang kelas. Kalau habis untuk gaji, lalu anak-anak kita mau belajar pakai apa?" ujar Ratna.

Ia menegaskan, pemerintah pusat tidak boleh melepaskan tanggung jawab atas kebijakan pengangkatan PPPK.

"Kalau pemerintah mau mengangkat PPPK, maka tanggung jawab pembiayaan gajinya harus sepenuhnya dari APBN, bukan mengorbankan dana pembangunan daerah," tegasnya.

Ratna menilai, apabila pembiayaan gaji PPPK dipaksakan melalui DAU, kondisi fiskal pemerintah daerah akan semakin tertekan dan berpotensi menghambat berbagai program pembangunan.

"Ini bukan solusi. Ini hanya memindahkan masalah dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Jangan sampai demi membayar gaji, sekolah tidak bisa dibangun, dan demi guru, murid justru menjadi pihak yang dirugikan," katanya.

Sebagai solusi, GKTN mengusulkan agar pemerintah terlebih dahulu melakukan pemetaan kebutuhan guru berdasarkan skala prioritas, memastikan anggaran gaji PPPK bersumber dari APBN, serta memberikan kepastian status kepegawaian secara jelas.

"Kami tidak menolak guru sejahtera. Yang kami tolak adalah mekanisme pembiayaannya yang membebani daerah. Jika dipaksakan melalui DAU, daerah akan semakin tercekik dan kualitas pendidikan dikhawatirkan terus menurun," pungkas Ratna. ***Red

Penantian Panjang Berbuah Hasil, SDN Cadas Leueur Mulai Direhabilitasi, Dua Ruang Kelas hingga Ruang Kepala Sekolah Diperbaiki


BOGOR, mediasuratkabarukum.com – Setelah bertahun-tahun menanti perbaikan, SD Negeri Cadas Leueur yang berlokasi di Jalan Antam Pongkor KM 07, Cadas Leueur, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, akhirnya mulai merealisasikan program rehabilitasi bangunan sekolah. Tahap awal pekerjaan difokuskan pada dua ruang kelas, satu ruang guru, dan satu ruang kepala sekolah yang selama ini membutuhkan penanganan agar kembali layak digunakan sebagai sarana pendidikan.

Kepala SD Negeri Cadas Leueur, Juju Juariah, S.Pd., M.M., menyampaikan rasa syukur atas dimulainya rehabilitasi tersebut. Menurutnya, bantuan ini merupakan jawaban atas harapan seluruh warga sekolah yang telah lama menantikan adanya perbaikan fasilitas pendidikan.

"Kami sangat bersyukur karena ini adalah penantian yang cukup lama dari warga SDN Cadas Leueur. Alhamdulillah sekarang sudah terealisasi. Meskipun untuk anggaran dan rincian lainnya belum ada kejelasan sepenuhnya, yang terpenting sudah ada aksi nyata. Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah dan pihak Dinas Pendidikan yang cepat tanggap langsung turun tangan," ujar Juju.

Ia menjelaskan, rehabilitasi meliputi perbaikan atap, dinding, lantai, serta sejumlah bagian bangunan yang mengalami kerusakan. Dengan adanya perbaikan tersebut, proses pembelajaran diharapkan dapat berlangsung lebih aman, nyaman, dan kondusif bagi siswa maupun tenaga pendidik.

Meski demikian, Juju mengakui sekolah yang dipimpinnya masih menghadapi keterbatasan ruang belajar. Kondisi lahan sekolah yang sempit membuat penambahan ruang kelas secara horizontal tidak memungkinkan.

Karena itu, pihak sekolah berharap pemerintah tetap memberikan dukungan melalui program pembangunan yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan ruang belajar di masa mendatang.

"Sebetulnya kami masih kekurangan ruang kelas. Harapan kami ke depan, mudah-mudahan bantuan ini terus berlanjut, baik dari DAK maupun APBD, sehingga kami dapat memiliki ruang kelas bertingkat. Mengingat lahan sekolah yang terbatas, pembangunan secara vertikal menjadi solusi agar kebutuhan ruang belajar dapat terpenuhi dan anak-anak bisa belajar dengan lebih nyaman," ungkapnya.

Menurut Juju, pembangunan ruang kelas bertingkat menjadi solusi paling ideal mengingat keterbatasan lahan yang dimiliki sekolah. Ia berharap rehabilitasi yang kini berjalan menjadi awal dari peningkatan sarana dan prasarana pendidikan di SD Negeri Cadas Leueur.

Dengan dimulainya proyek rehabilitasi tersebut, pihak sekolah optimistis kualitas layanan pendidikan akan semakin meningkat. Fasilitas yang lebih layak diharapkan mampu mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan representatif bagi seluruh peserta didik, sekaligus menjadi wujud komitmen pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Bogor. ***Red/Kus

Sinergi Polri dan Media Diperkuat, Komisaris Agista Media Citra Terima Penghargaan dari Kapolres Cianjur

CIANJUR, mediasuratkabarumum.com – Sinergi antara Kepolisian Republik Indonesia dan insan media terus diperkuat dalam mendukung terciptanya keamanan, ketertiban, serta budaya tertib berlalu lintas di tengah masyarakat. Berbagai bentuk kolaborasi kreatif yang mampu mengedukasi publik menjadi bagian penting dalam menyukseskan program-program kepolisian.

Sebagai bentuk apresiasi atas dukungan tersebut, Kapolres Cianjur memberikan penghargaan kepada Komisaris Agista Media Citra, H. Agus Ginanjar, S.E., atas dedikasi dan kontribusinya dalam mendukung Operasi Knalpot Brong melalui karya kreatif yang mengedukasi masyarakat.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Kapolres Cianjur, Dr. A. Alexander Yuriko Hadi, S.H., S.I.K., M.Si., M.M., M.HI., M.I.P., pada Rabu, 29 Juli 2026.

H. Agus Ginanjar memperoleh apresiasi atas keberhasilannya menghadirkan Master Limbad dalam kampanye Operasi Knalpot Brong, sekaligus menciptakan lagu bertema Pengabdian Polri yang diikutsertakan dalam perlombaan memperingati Hari Bhayangkara ke-80.

Karya tersebut dinilai mampu menjadi media edukasi yang efektif dalam menyampaikan pentingnya tertib berlalu lintas, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan kendaraan sesuai ketentuan, serta memperkuat citra Polri sebagai institusi yang humanis dan dekat dengan masyarakat.

H. Agus Ginanjar menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterimanya. Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi seluruh keluarga besar Agista Media Citra untuk terus menghadirkan karya-karya positif yang mendukung program kepolisian.

"Penghargaan ini bukan hanya untuk saya pribadi, tetapi juga menjadi semangat bagi keluarga besar Agista Media Citra untuk terus bersinergi dengan Polri dalam menyampaikan edukasi dan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat," ujar H. Agus Ginanjar.

Ia berharap kolaborasi yang telah terjalin antara Polri, media, dan seluruh elemen masyarakat dapat terus ditingkatkan sehingga mampu melahirkan berbagai inovasi edukatif yang mendukung terciptanya keamanan, ketertiban, dan keselamatan berlalu lintas di Kabupaten Cianjur. ***Red