Banyu Raya Merawat Tradisi: Ketika Kemerdekaan dan Maulid Nabi Dipertemukan dalam Panggung Budaya


MediaSuratkabarUmum.com || CILILIN, BANDUNG BARAT — Perayaan kemerdekaan dan peringatan keagamaan di tengah masyarakat tidak selalu harus hadir dalam bentuk hiburan yang meriah. Di balik sebuah panggung sederhana, kebersamaan dapat tumbuh melalui karya, tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Semangat itulah yang dihadirkan organisasi Banyu Raya dalam rangkaian kegiatan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Maulid Nabi Muhammad SAW.

Banyu Raya memilih menghadirkan sesuatu yang memiliki kekhasan tersendiri. Drama perjuangan, drama sosial, drama kehidupan, serta kaulinan baheula khas Sunda menjadi bagian dari pertunjukan yang disuguhkan kepada masyarakat.

Pilihan tersebut menjadi menarik karena hiburan yang dihadirkan tidak semata-mata berorientasi pada kesenangan, tetapi juga membawa pesan tentang sejarah, kebudayaan, kehidupan sosial, dan pentingnya menjaga identitas masyarakat Sunda.

Mengenang Perjuangan Melalui Seni Pertunjukan

Drama perjuangan menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian kegiatan. Melalui seni pertunjukan, kisah perjuangan dihadirkan kembali sebagai pengingat akan jasa para pahlawan dan generasi terdahulu yang telah memberikan pengorbanan bagi bangsa.

Bagi Banyu Raya, mengenang perjuangan tidak harus selalu dilakukan melalui seremoni. Seni dan kreativitas juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan nilai-nilai perjuangan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Tokoh Banyu Raya, Wandri Hariyan, mengatakan drama telah menjadi bagian yang terus dipertahankan dalam kegiatan organisasi tersebut.

“Alhamdulillah, setiap tahun organisasi Banyu Raya ini berbeda dari yang lain. Kalau yang lain sudah biasa dengan hiburan band dan dangdut, Banyu Raya pasti drama selalu ditampilkan,” ungkap Wandri.

Kaulinan Baheula, Warisan yang Kembali Dihidupkan

Yang tak kalah menarik, sejumlah permainan tradisional Sunda atau kaulinan baheula turut diangkat ke dalam pertunjukan.

Mulai dari paciwit-ciwit lutung, encrak, enggrang, loncat tinggi, sondah hingga maen beklen, semuanya dikemas menjadi bagian dari cerita.

Sederhana, tetapi memiliki makna. Permainan yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan anak-anak Sunda tersebut kembali diperkenalkan melalui panggung pertunjukan.

Inilah salah satu bentuk ngamumule budaya Sunda—menjaga warisan budaya agar tidak berhenti menjadi cerita masa lalu, melainkan tetap dikenal dan diapresiasi oleh generasi hari ini.

Kreativitas Pemuda di Balik Panggung
Kehadiran pertunjukan tersebut juga tidak terlepas dari kreativitas para pemuda. Giri Finansa, A.Md., menjadi salah satu tokoh yang turut berperan dalam penyusunan sejumlah naskah drama dengan tema sosial, perjuangan kehidupan dan kaulinan baheula.

Keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi. Sebab, budaya akan tetap hidup ketika generasi penerus tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menciptakan dan mengembangkannya.

Kemerdekaan, Maulid dan Kebersamaan
Rangkaian kegiatan Banyu Raya kemudian diperkaya dengan nuansa religius melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Warga mengikuti doa bersama dan mahalul qiyam, disertai penampilan grup qosidah Al Gofar Assa'adah yang melibatkan kaum ibu.

Kegiatan tersebut turut diisi bersama Ustad H. Syarif Hidayatullah, S.Pd.I, Ketua RT Anwar Hidayat (Away), serta Ketua Pelaksana Aldika.

Perpaduan antara semangat kemerdekaan dan nilai keagamaan tersebut menghadirkan suasana kebersamaan yang terasa kuat. Masyarakat tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari sebuah perayaan yang mengandung nilai sejarah, spiritualitas dan budaya.

Lebih dari Sekadar Perayaan
Antusiasme masyarakat menjadi gambaran bahwa tradisi dan kreativitas lokal masih memiliki tempat di hati warga.

Apa yang dilakukan Banyu Raya memperlihatkan bahwa sebuah perayaan dapat menjadi ruang untuk menghibur sekaligus mengingatkan, meramaikan sekaligus merawat, serta berkumpul sekaligus mempererat persaudaraan.

Pada akhirnya, panggung Banyu Raya bukan hanya tentang siapa yang tampil dan bagaimana pertunjukannya berlangsung.

Lebih jauh, ada pesan yang ingin diwariskan: kemerdekaan patut dikenang, perjuangan perlu dihargai, agama menjadi tuntunan, dan budaya harus terus dirawat.
Sebab ketika tradisi diberi ruang untuk hidup, generasi muda tidak hanya mengenal dari mana mereka berasal, tetapi juga memahami nilai yang patut mereka teruskan. ***Red

0 comments:

Posting Komentar